Kurikulum telah mengalami 9 kali pergantian selama
ini. Dari Kurikulum 1968 sampai kini yang terakhir Kurikulum 2013 (K-13). Bagaimana
kesiapan lembaga menerapkan K-13?
Dalam sekian
banyak pergantian kurikulum itu, selalu muncul hal baru yang menjadi ciri
khasnya. Ciri khas itulah yang membedakan kurikulum satu dengan kurikulum yang
lainnya. Namun, ciri khas yang menekankan pembelajaran berpusat pada siswa
barulah terjadi sejak KBK 2004 lalu.
Menurut
penuturan dosen Pengembangan Kurikulum FKIP-PGSD Unirow Tuban Drs. Rusman
perubahan kurikulum yang terjadi tersebut dikarenakan kurikulum selalu
disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kondisi kejiwaan peserta
didik dan juga budaya masyarakat yang selalu berubah.
“Kurikulum tercipta
sebagai alat untuk menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi.
Bukan hanya itu, Kurikulum diharuskan dapat menyesuaikan dengan kejiwaan anak.
Bahkan, Kurikulum dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan sosial-budaya
masyarakat,” jelasnya. Lebih dari itu, dia menegaskan jika tidak ada kurikulum,
maka pendidikan hanyalah ibarat mobil yang tak terkendali dan tanpa tujuan.
Kini Kurikulum
yang sedang dalam proses dijalankan adalah Kurikulum 2013 (K-13). Di Kabupaten
Tuban, dari total jumlah SMP-SMA-SMK yang ada, baru 6 SMP dan 6 SMA yang telah
siap menerapkan K-13.
Diantara SMP
yang telah siap menerapkan K-13 adalah SMP N 1 TUBAN, SMP N 2 TUBAN, SMP N 3
TUBAN,SMP N 5 TUBAN,SMP ISLAM BEJAGUNG, dan SMP KENDURUAN.
Sementara SMA
yang telah siap adalah SMA N 1 TUBAN,
SMA N 2 TUBAN, SMA N 3 TUBAN, SMA N 4 TUBAN, SMA N 1 PLUMPANG dan SMA 1
KENDURUAN. Sementara itu, di Kabupaten Tuban, belum ada 1 SMK pun yang telah
siap menerapkan K-13.
Hal ini sesuai
dengan apa yang diungkapkan Dra. Heny Indriyana, MM, kasi Kurikulum SMP, SMA,
SMK Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban. Ditanya kesiapan menerapkan K-13, Heny
menyatakan bahwa tahun depan seluruh sekolah akan telah menerapkan K-13,
kecuali SMK.
Dia menilai K-13
untuk SMK masih sulit untuk diterapkan. Pasalnya, kendala yang menghambat
adalah ketersediannya guru untuk mata pelajaran produktif di setiap jurusannya.
“Kalau SMK itu
sulit karena terkendala dari kelas produktifnya. Guru pengajarnya yang tidak
banyak,” ungkapnya. Meskipun demikian, dia mengaku akan tetap berusaha
menyukseskan terlaksananya K-13.
Untuk
pelaksanaan K-13 sementara, dia mengaku Kabupaten Tuban termasuk kabupaten yang
telah menerapkan K-13 dengan baik. Hal itu dibuktikan dari 4 kali monitoring
yang dilakukan oleh Direktorat terkait, kesemuanya mendapat penilaian baik.
“Dalam
pelaksanaan Kurikulum 2013 sudah benar-benar bersih, maksudnya sudah
dilaksanakan dengan baik,” ungkapnya.
Ditemui wartawan
LPM, M. Sahli, waka kurikulum SMA N Montong, mengatakan bahwa SMA-nya belum
menerapkan K-13. Dia mengaku pada 5 Mei mendatang baru akan mengikuti workshop
K-13 di Bandung. “Tahun depan semua sekolah serentak menerapkan K-13, termasuk
SMA kami,” ungkapnya.
Ditanya
keunggulan K-13 dari kurikum-kurikulum sebelumnya, baik Heny maupun Sahli
menjelaskan bahwa K-13 lebih menekankan pada kemandirian siswa untuk
menyelesaikan masalahnya secara mandiri.
“Siswa itu
sendiri yang mencari dan terus mencari.Aktif dalam hal yang baru.Belajar.
Dengan sistem yang demikian, maka akan mudah untuk mencapai sistem pendidikan
nasional,” ungkap Heny. (ifa)





0 komentar:
Posting Komentar