Selasa, 16 Desember 2014

Realisasi Kurikulum 2013 Baru 6 SMP dan 6 SMA yang Siap


Kurikulum telah mengalami 9 kali pergantian selama ini. Dari Kurikulum 1968 sampai kini yang terakhir Kurikulum 2013 (K-13). Bagaimana kesiapan lembaga menerapkan K-13?


Dalam sekian banyak pergantian kurikulum itu, selalu muncul hal baru yang menjadi ciri khasnya. Ciri khas itulah yang membedakan kurikulum satu dengan kurikulum yang lainnya. Namun, ciri khas yang menekankan pembelajaran berpusat pada siswa barulah terjadi sejak KBK 2004 lalu.

Menurut penuturan dosen Pengembangan Kurikulum FKIP-PGSD Unirow Tuban Drs. Rusman perubahan kurikulum yang terjadi tersebut dikarenakan kurikulum selalu disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kondisi kejiwaan peserta didik dan juga budaya masyarakat yang selalu berubah.

“Kurikulum tercipta sebagai alat untuk menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Bukan hanya itu, Kurikulum diharuskan dapat menyesuaikan dengan kejiwaan anak. Bahkan, Kurikulum dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan sosial-budaya masyarakat,” jelasnya. Lebih dari itu, dia menegaskan jika tidak ada kurikulum, maka pendidikan hanyalah ibarat mobil yang tak terkendali dan tanpa tujuan.

Kini Kurikulum yang sedang dalam proses dijalankan adalah Kurikulum 2013 (K-13). Di Kabupaten Tuban, dari total jumlah SMP-SMA-SMK yang ada, baru 6 SMP dan 6 SMA yang telah siap menerapkan K-13.

Diantara SMP yang telah siap menerapkan K-13 adalah SMP N 1 TUBAN, SMP N 2 TUBAN, SMP N 3 TUBAN,SMP N 5 TUBAN,SMP ISLAM BEJAGUNG, dan SMP KENDURUAN.

Sementara SMA yang telah siap adalah  SMA N 1 TUBAN, SMA N 2 TUBAN, SMA N 3 TUBAN, SMA N 4 TUBAN, SMA N 1 PLUMPANG dan SMA 1 KENDURUAN. Sementara itu, di Kabupaten Tuban, belum ada 1 SMK pun yang telah siap menerapkan K-13.

Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan Dra. Heny Indriyana, MM, kasi Kurikulum SMP, SMA, SMK Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban. Ditanya kesiapan menerapkan K-13, Heny menyatakan bahwa tahun depan seluruh sekolah akan telah menerapkan K-13, kecuali SMK.

Dia menilai K-13 untuk SMK masih sulit untuk diterapkan. Pasalnya, kendala yang menghambat adalah ketersediannya guru untuk mata pelajaran produktif di setiap jurusannya.

“Kalau SMK itu sulit karena terkendala dari kelas produktifnya. Guru pengajarnya yang tidak banyak,” ungkapnya. Meskipun demikian, dia mengaku akan tetap berusaha menyukseskan terlaksananya K-13.

Untuk pelaksanaan K-13 sementara, dia mengaku Kabupaten Tuban termasuk kabupaten yang telah menerapkan K-13 dengan baik. Hal itu dibuktikan dari 4 kali monitoring yang dilakukan oleh Direktorat terkait, kesemuanya mendapat penilaian baik.

“Dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 sudah benar-benar bersih, maksudnya sudah dilaksanakan dengan baik,” ungkapnya.

Ditemui wartawan LPM, M. Sahli, waka kurikulum SMA N Montong, mengatakan bahwa SMA-nya belum menerapkan K-13. Dia mengaku pada 5 Mei mendatang baru akan mengikuti workshop K-13 di Bandung. “Tahun depan semua sekolah serentak menerapkan K-13, termasuk SMA kami,” ungkapnya.

Ditanya keunggulan K-13 dari kurikum-kurikulum sebelumnya, baik Heny maupun Sahli menjelaskan bahwa K-13 lebih menekankan pada kemandirian siswa untuk menyelesaikan masalahnya secara mandiri.

“Siswa itu sendiri yang mencari dan terus mencari.Aktif dalam hal yang baru.Belajar. Dengan sistem yang demikian, maka akan mudah untuk mencapai sistem pendidikan nasional,” ungkap Heny. (ifa)

0 komentar: