Kamis, 18 Desember 2014

Cerita di Balik Kegigihan Bapak Pendidikan Nasional


KI HAJAR DEWANTARA

www.Google.com

Beliau lahir dari sebuah keluarga keraton Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889 pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Sesuai dengan latar belakang keluarganya beliau memiliki nama asli Raden Mas Soewardi Soerdjaningrat (dalam EYD: Suwardi Suryaningrat) dan beliau meninggal di usianya 69 tahun tanggal 26 April 1959 di Yogyakarta. Sebagai seorang pribu,i yang lahir di keluarga keraton Soewardi bukan tipikal orang yang senang menikmati kekayaan yang dimilikinya namun beliau merupakan salah satu aktivis pergerakan perjuangan anti kolonialisme.

Raden Mas Soewardi Soerdjaningrat saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan tahun Caka beliau berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu Ki Hadjar Dewantara tidak pernah menggunakan gelar kebangsawanannya di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya beliau dapat bebas dekat dengan rakyat baik secara fisik, maupun hatinya.

Soewardi dapat dikatakan sebagai salah seorang pribumi yang beruntung karena dengan latar belakang dari keluarga keraton beliau menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda) kemudian semapat juga melanjutkan pendidikannya ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), namun tidak sampai tamat karena beliau sakit.

Semasa muda beliau juga sempat berprofesi sebagai wartawan dan penulis di berbagai surat kabar antara lain Sediotomo, Midden java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara, pada masanya beliau tergolong penulis handal tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat kemerdekaan.

Aktifitas Pergerakan

Beliau juga banyak ikut dan aktif diberbagai organisasi diantaranya aktivis pergerakan kemerdekaan indonesia, kolumnis, politisi dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi indonesia dari zaman penjajahan belanda. Selain itu juga aktif dalam organisasi sosial politik salah satunya organisasi Boedi Oetomo (BO) yang berdiri pada tahun 1908, Soewardi juga aktif di seksi propaganda untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat indonesia (terutama Jawa) terkait pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Semasa mudanya beliau sudah menunjukkan aktifitas pergerakan yang menyemanagati rakyat untuk berjuang dan melawan ketertindasan selama ini. Selain mengikuti organisasi BO Soewardi juga menjadi anggota organisasi Insulinde yaitu organisasi multietnik yang didominsasi kaum indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Styabudhi)/(DD).

Tak cukup sampai disitu saja pergerakan Soewardi, beliau mendirikan Indische Partij sebagai partai politik pertama yang beraliran nasionalisme indonesia pada tanggal 25 Desember 1912 bersama kedua rekannya Douwes Dekker dan Dr. Cipto Mangunkusumo yang dikenal sebagai Tiga Serangkai yang memiliki tujuan mencapai indonesia merdeka.

Awal Perseteruan Terhadap Belanda

Untuk melegalkan status hukum Indische Partij Soewardi berusaha mengurus perijinan kepada pemerintahan kolonial Belanda. Namun proses tersebut tidak semudah yang dibayangkan, pemerintah kolonial Belanda melaui Jendral Idenburg menolak pendaftaran yang diajukan oleh Soewardi pada tanggal 11 Maret 1913 dengan sebab, organisasi tersebut dianggap dapat membangkitkan rasa nasionalisme dan kesatuan rakyat untuk menentang pemerintah kolonial Belanda.

Namun, semangat dan tekad Soewardi tidak sekecil itu untuk menghentikan langkahnya. Tercatat pada bulan November 1913 Soewardi membentuk Komite Bumipoetra yang bertujuan untuk mengkritik pemerintahan Belanda. Salah satu caranya dengan menerbitkan tulisan yang berjudul “Als lk Eens Nederlander Was” (Seandainya aku seorang Belanda) dan “Een voor Allen maar ook Allen voor Een” ( Satu Untuk Semua tetapi Semua untuk Satu Juga) dimana kedua tulisan tersebut menjadi tulisan terkenal hingga saat ini. Tulisan Seandainya Aku Seorang Belanda dimuat dalam surat kabar de Expres milik Dr. Douwes Dekker.

Karyanya:

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh Si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. ide untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu ! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya”

Tulisan-tulisan yang di terbitkan di de Expres menuai tanggapan negatif dari pihak pemerintahan Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg menjatuhkan hukuman pengasingan terhadap “Tiga Serangkai” tersebut.

Sisi Terang Negeri Pengasingan.

Sebuah pengasingan terhadap “Tiga Serangkai” tidak semuanya meninggalkan cerita buruk walaupun rencana awal ketiganya akan diasingkan ditempat yang berbeda Soewardi/ Ki Hajar Dewantoro diasingkan ke pulau Bangka (atas permintaan sendiri) dan Douwes Dekker diasingkan di Kupang sedangkan Cipto Mangoenkoesoemo di buang ke pulau Banda. Namun dengan upaya dan tekad yang keras akhirnya mereka menghendaki untuk dibuang ke Negeri “Kincir Angin” (Belanda).

Akhirnya mereka bertiga dibuang dan diizinkan ke negeri Belanda sehingga disana mereka dapat mempelajari banyak hal dari pada di daerah terpencil seperti rencana awal pengasingan. Sebuah tanah pengasihan yang tidak terlalu buruk untuk Ki hajar Dewantara dan kedua kawannya, mereka di Belanda memanfaatkan kesempatan tersebut untuk belajar dan mendalami masalah pendidikan dan pengajaran.

Kesempatan tersebut tak disia-siakan oleh Ki Hajar Dewantoro untuk menimba ilmu pendidikan dan pada kesempatan yang akan datang kebijakan pengasingan tersebut menghasilkan buah manis untuk pendidikan di Indonesia.

Wajah Pendidikan Indonesia

Kembalinya Ki Hajar Dewantoro dari negeri pengasingan membawa dampak besar terhadap wajah pendidikan di Indonesia, beliau lebih memusatkan perjuangan melalui pendidikan. Lewat pendidikan yang digunakan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan. Pada tanggal 3 Juli 1922 Ki Hajar Dewantoro mendirikan sebuah Perguruan yang bercorak nasional yang diberi nama Nationaal Onderwiis Institut Taman Siswa (Perguruan Nasional Taman Siswa), perguruan tersebut merupakan wadah untuk menanamkan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka lebih mencintai bangsa dan tanah airnya dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Namun tak semudah itu perjalanan beliau karena pemerintah kolonial Belanda berupaya untuk menggagalkan Taman Siswa tersebut dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932.
            
Ajaran beliau yang merubah wajah pendidikan Indonesia yang terkenal sampai saat ini:

Ing ngarsa sung tulodo, ing madya mangun karso dan tut wuri handayani”.

Yang berarti di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat dan dibelakang memberi dorongan.

Dengan penuh semangat memperjuangkan haknya akhirnya Ordonansi tersebut dicabut oleh pemerintahan kolonial Belanda. Walaupun Ki Hajar Dewantara sudah sibuk dengan Taman Siswanya namun beliau tetap rajin menulis, namun tema tulisannya tak seperti dulu lagi yang semula bernuansa politik beralih ke pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Melalui tulisan-tulisan tersebut Ki Hajar Dewantara brhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa indonesia. Aktivitas menulis tersebut terus berlanjut hingga zaman pendudukan Jepang ke Indonesia.

Kekuasan dan Cita-Cita Mulia

Ki Hajar Dewantara sebagai salah satu orang penting sudah barang tentu tidak melupkan cita-citanya yang mulia yaitu memjukan pendidikan dan pengajaran di Indonesia. Tahun 1943 saat pemerintahan Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) beliau dipercaya menjadi salah seorang pimpinan bersama Ir. Soekarno dan Moh. Hatta, setelah kemerdekaan kemerdekaan indonesia berhasil direbut dari tangan penjajah dan stabilitas pemerintahan sudah terbentuk.

Pada masa pemerintahan Soekarno beliau ditunjuk menjadi menteri Pendidikan, pengajaran dan kebudayaan yang pertama. Dengan jabatan yang diembannya beliau dapat dengan leluasa mencapai cita-citanya yang mulia dengan cara meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Pada tahun 1957, Ki Hadjar Dewaantara mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada. Dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa itu, tepatnya tanggal 28 April 1959 beliau meninggal dunia dan dimakamkan di Yogyakarta. Ki Hadjar Dewantara ditetapkan sebagai pahlawan pendidikan (Bapak Pendidikan Nasional) dengan bukti tanggal kelahiran beliau di peringati sebagai hari pendidikan nasional hingga sekarang, dan melalui surat keputusan Presiden RI No. 305 Tahun 1959 tanggal 28 November 1959 beliau juga ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

Untuk mengenang jasa-jasa beliau pihak pengurus taman siswa mendirikan Museum Dewantara Kirti Griya Yogyakarta yang bertujuan untuk melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hadjar Dewantara. Dalam museum ini terdapat benda-benda atau karya-karya Ki Hadjar Dewantara sebagai pendiri Taman Siswa dan kiprahnya dalam kehidupan berbangsa. Koleksi museum yang berupa karya tulis atau konsep dan risalah-risalah penting serta data surat-menyurat semasa hidup Ki Hadjar sebagai jurnalis, pendidik, budayawan dan sebagai seorang seniman.

Selain ajarannya di bidang pendidikan Ki Hadjar Dewantara juga meninggalkan pesan yang sangat baik untuk diteladani. Pesan tersebut kini dapat dilihat pada Museum Sumpah Pemuda di JI. Kramat Raya, Jakarta.

“Aku hanya orang biasa yang Bekerja untuk bangsa lndonesia dengan cara Indonesia. Namun, yang penting untuk kalian yakini, sesaat pun aku tak pernah mengkhianati tanah air dan bangsaku, lahir maupun batin aku tak pernah mengkorup kekayaan negara.
(Ali)

0 komentar: