![]() |
| sumber: Google |
Tekhnologi di abad 21 kini berkembang pesat di lingkungan masyarakat. Hampir di setiap aktivitas manusia tak bisa
lepas dari yang namanya teknologi. Menurut Gary
J Anglin (1991), “Teknologi sebagai keseluruhan metode yang
secara rasional mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap kegiatan
manusia”. selain efisiensi yang dibutuhkan, efektifitas menjadi prioritas
masyarakat yang bergerak cepat.
Seperti penggunaan gadget yang begitu fenomenal saat
ini. Gadget adalah sebuah alat komunikasi yang menjadi kebutuhan sebagian besar
manusia di era ini. Menurut data yang tercatat di Kementerian Komunikasi
dan Informatika, angka masyarakt
pengguna gadget di Indonesia menyentuh 240 juta unit. Tidak dapat dipungkiri, selayaknya
dua sisi mata uang yang berbeda. Seiring berkembangnya teknologi, sedikit
banyak akan membawa perubahan pada
pengguna teknologi tersebut.
Saat
ini, pengguna yang didominasi dari kaum pelajar tak hayal jumlah gadget semakin
meningkat. Kehadiran gadget, seperti
iphone ataupun smartphone yang semestinya membawa hal baik untuk
menambah pengetahuan seringkali di gunakan untuk hal tidak semestinya,
menyontek saat ujian. Memang dalam kasus menyontek, para pelajar memanfaatkan
untuk menambah khasanah kepengetahuan dari gadget tersebut. Namun tidak
sepatutnya memanfaatkan gadet pada saat ujian berlangsung.
Dalam
ujian selalu ada peraturan yang tegas dari pihak sekolah atau kampus, yang
salah satunya tidak memperkenankan siswanya mengaktifkan apa lagi menggunakan
alat komunikasi yang dimiliki. Tujuannya jelas agar melatih siswa belajar
bertanggung jawan serta mandiri dalam
mengerjakan soal yang diujikan. Namun pada kenyataannya, dengan adanya
perkembangan tekhnologi komunikasi
ditambah kemudahan mengakses internet kesempatan menyontek semakin meningkat.
Mayoritas
gadget yang dimiliki palajar ataupun mahasiswa saat ini, minimal tersedia
feature web, atau mentok untuk berkirim pesan. Dengan memanfaatkan feature tersebut, semakin mempermudah pelajar ataupun mahsiswa untuk mencari jawaban dan
bertukar jawaban. Bahkan di web,
ditemukan beberapa artikel yang mengulas mengenai “Tips sukses menyontek
sata ujian”. Dengan memanfaatkan gadget,
seolah menjadi dewa penolong bagi pelajar yang mengatasnamakan bekerja sama dan
solidaritas antar teman. Mementahkan bahwasanya menyontek itu suatu hal yang
tidak jujur.
Dari
teori-teori tentang motivasi, diketahui bahwa menyontek terjadi apabila seseorang berada dalam kondisi
tertekan (underpressure), atau apabila dorongan
atau harapan untuk berprestasi jauh lebih besar dari pada potensi yang
dimiliki.
Tuntutan
dari orang tua, sistem pendidikan, dan lingkungan menempatkan siswa atau
mahasiswa pada titik terendah dalam hidupnya, underpressure, dan menyontek
merupakan pilihan terakhir . Duduk di bangku pendidikan dan berprestasi di bidang akademik menjadi tolak
ukur keberhasilan dai suatu jenjang pendidikan. Didukung gadget yang memadai,
tidaklah perlu belajar semalam suntuk untuk dapat mengisi soal ujian. Cukup
mengandalkan kelihaian menggunakan feature gadget, semua urusan terselesaikan.
Dengan adanya
fasilitas gadget canggih, kesempatan dan niatan untuk menyontek secara tidak langsung
telah memberikan pengajaran, bahwa segala sesuatu itu dapat diraih dengan mudah
melalui kecurangan, tanpa harus bekerja keras dan belajar. Lalu bagaimana
dengan masa depan genrasi muda kita? Tak menutup kemungkinan, di masa mendatang
kebiasaan menyontek yang terbentuk
menjadi cikal bakal tindakan korupsi.
Dari
tindak menyontek sewaktu jadi siswa atau mahasiswa, apakah ada korelasi terhadap kasus-kasus korupsi yang terjadi saat ini. Apakah demi
sebuah pencapaian niali bagus lebih penting dari pada kejujuran? (Dwi Rahayu)





0 komentar:
Posting Komentar