Selasa, 16 Desember 2014

Gadget dan Kebiasaan Mencontek

sumber: Google


 Tekhnologi di abad 21 kini  berkembang  pesat di lingkungan masyarakat.  Hampir di setiap aktivitas manusia tak bisa lepas dari yang namanya teknologi. Menurut Gary  J Anglin   (1991), “Teknologi sebagai keseluruhan metode yang secara rasional mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap kegiatan manusia”. selain efisiensi yang dibutuhkan, efektifitas menjadi prioritas masyarakat yang bergerak cepat.

Seperti  penggunaan gadget yang begitu fenomenal saat ini. Gadget adalah sebuah alat komunikasi yang menjadi kebutuhan sebagian besar manusia di era ini. Menurut data yang tercatat di Kementerian Komunikasi dan  Informatika, angka masyarakt pengguna gadget di Indonesia menyentuh 240 juta unit. Tidak dapat dipungkiri, selayaknya dua sisi mata uang yang berbeda. Seiring berkembangnya teknologi, sedikit banyak  akan membawa perubahan pada pengguna teknologi tersebut.

Saat ini, pengguna yang didominasi dari kaum pelajar tak hayal jumlah gadget semakin meningkat. Kehadiran gadget, seperti  iphone ataupun smartphone yang semestinya membawa hal baik untuk menambah pengetahuan seringkali di gunakan untuk hal tidak semestinya, menyontek saat ujian. Memang dalam kasus menyontek, para pelajar memanfaatkan untuk menambah khasanah kepengetahuan dari gadget tersebut. Namun tidak sepatutnya memanfaatkan gadet pada saat ujian berlangsung.

Dalam ujian selalu ada peraturan yang tegas dari pihak sekolah atau kampus, yang salah satunya tidak memperkenankan siswanya mengaktifkan apa lagi menggunakan alat komunikasi yang dimiliki. Tujuannya jelas agar melatih siswa belajar bertanggung jawan serta  mandiri dalam mengerjakan soal yang diujikan. Namun pada kenyataannya, dengan adanya perkembangan tekhnologi  komunikasi ditambah kemudahan mengakses internet kesempatan menyontek semakin meningkat.

Mayoritas gadget yang dimiliki palajar ataupun mahasiswa saat ini, minimal tersedia feature web, atau mentok untuk berkirim pesan. Dengan memanfaatkan feature  tersebut, semakin  mempermudah pelajar  ataupun mahsiswa untuk mencari jawaban dan bertukar jawaban. Bahkan di web,  ditemukan beberapa artikel yang mengulas mengenai “Tips sukses menyontek sata ujian”.  Dengan memanfaatkan gadget, seolah menjadi dewa penolong bagi pelajar yang mengatasnamakan bekerja sama dan solidaritas antar teman. Mementahkan bahwasanya menyontek itu suatu hal yang tidak jujur.

Dari teori-teori tentang motivasi, diketahui bahwa menyontek  terjadi apabila seseorang berada dalam kondisi tertekan (underpressure), atau  apabila dorongan atau harapan untuk berprestasi jauh lebih besar dari pada potensi yang dimiliki.

Tuntutan dari orang tua, sistem pendidikan, dan lingkungan menempatkan siswa atau mahasiswa pada titik terendah dalam hidupnya, underpressure, dan menyontek merupakan pilihan terakhir . Duduk di bangku pendidikan dan  berprestasi di bidang akademik menjadi tolak ukur keberhasilan dai suatu jenjang pendidikan. Didukung gadget yang memadai, tidaklah perlu belajar semalam suntuk untuk dapat mengisi soal ujian. Cukup mengandalkan kelihaian menggunakan feature gadget, semua urusan terselesaikan.

Dengan adanya fasilitas gadget canggih, kesempatan dan niatan untuk menyontek secara tidak langsung telah memberikan pengajaran, bahwa segala sesuatu itu dapat diraih dengan mudah melalui kecurangan, tanpa harus bekerja keras dan belajar. Lalu bagaimana dengan masa depan genrasi muda kita? Tak menutup kemungkinan, di masa mendatang kebiasaan menyontek  yang terbentuk menjadi cikal bakal tindakan korupsi.

Dari tindak menyontek sewaktu jadi siswa atau mahasiswa, apakah ada  korelasi terhadap kasus-kasus  korupsi yang terjadi saat ini. Apakah demi sebuah pencapaian niali bagus lebih penting dari pada  kejujuran? (Dwi Rahayu)

0 komentar: