Salam
Rinduku Untuk Ayah
Malam
yang merambat pelan dalam kesunyian. Dingin menelusup melalui sela- sela
dedaunan yang merimbun bergoyang tertiup
angin. Dingin memang terasa beku menusuk
tulang. Aku masih duduk di sini di tepi pembaringan kamarku. Sayup sayup terdengar alunan lagu ayah dari crisye mengantarkan
hening ke telinga. Sair demi sair seolah menghujam dalam otak. Sebuah lagu yang bercerita akan
kerinduan seorang ayah. Ya, rindu kata itu mungkin terlalalu manis untuk di
dengar. Namun itu seperti halnya berputar balik untukku memaknai nya. Alunan
lagu dengan nada sendu beradu hebat dalam kepenatan.
Kerinduan telah membekukan kelam malam. Namun
kantuk masih enggan bersahabat. Aku terkapar dalam kegelisahan yang tersaji di
sudut kamar. Malam yang gerah perlahan membawa pikiran dalam persetubuhan otak
yang tak pernah klimaks. Menghidangkan keresahan atas kehidupan yang telah
kutempuh lebih dari seperlima abad. Tiba-tiba pikiran ganjil bin aneh
menusuk-nusuk tempurung kepala. Aku ingin berteriak keras, melepas penat yang
menggumpal dalam otaku. Urat-urat menegang mengejang. Tiba-tiba muncul sebuah
bayang bayang yang menari di mata. Sesosok tubuh yang terbalut bayangan suram yang sulit untuk ku ingat wajahnya. Hari yang di mana
menjadi hari terakhir. Sebuah kecelakaan yang harus merenggut nyawa. Butiran
air mata luka menghiasi setiap derap langkah kaki. Rumah yang semula kosong
berubah menjadi jeritan duka. Aku yang dengan tampang polosku seolah tak mengerti apa yang terjadi
siang itu. Aku di dekatkan dengan ayah yang sudah terbujur lemas. Hanya dengan
isyarat mata ayah memandangiku. Mendekap seolah berat untuk
meninggalkan.Kecupan terakhir menjadi symbol pamitannya dan tertutuplah mata
ayah untuk selamanya. Aku dan ibu mengantar jasad mendiang ayah di
peristirahatan terakhir. Pepohonan yang bergoyang seakan merasakan duka. Burung
burung yang berkicau seolah ikut mengucapkan kalimat tahlil yang akan
mengiringi langkah ayah menuju alam barzah sana. Penaburan bunga mengakhiri
prosesi pemakaman sore itu. Aku bersama ibu menaburkan bunga di atas kuburan
yang masih harum semerbak. Air mata luka masih menghiasi pipi ibu. seolah
merubah sore itu menjadi malam dengan
balutan awan hitam yang kelam. Hanya satu memori itu yang masih terekam dalam
otakku. Walau seperti mengingat bayangan
semu abu abu. Entah dengan cara apa aku harus mengingatnya . Terlalu sulit
ketika harus mengingat kembali wajah dalam memori siang itu. Akan tapi di
situlah kebesaran Tuhan di mana aku masih di beri satu ingatan untuk mengingat
moment terakhir itu.
Entahlah apa yang ku fikirkan. Mungkin aku
lelah, aku capek. Hanya itu yang kurasakan. Dan dalam hati hanya ingin ku
panggil “ayaaahhhhhhh”. Memang benar, aku rindu, aku ingin bercerita, aku ingin
di peluk. Bisakah kau hadir malam ini,
aku ingin berbagi. Lihatlah gadis kecilmu ini, kini sudah beranjak dewasa,
tanpamu dia mejadi sosok yang mandiri, dia kuat, dia hebat ayah, gumamnya.
Rindukah engkau dengannya? Pertanyaan pertanyaan yang terlalu abstrak untuk di
tanyakan. Hanya bayangan bayangan semu yang tak pernah terlihat jelas wajahnya.
Seperti membayangkan seseorang tanpa rupa. Karena memang aku yang dari
kecil tak pernah melihat sosoknya, hanya
lewat cerita bunda aku mengenal dan hanya dapat mengenangnya.
Dua tahun mungkin dapat dibilang usia yang
terlalu dini ketika aku harus mengingat. Seandainya ada tempat untuk menyimpan memori, mungkin aku masih bisa
mengingat saat aku masih di timang timang, di manjakan, di dekap. Disitulah
mungkin aku merasakan kasih sayang seorang ayah yang ku rindukan. Haruskah aku
meminta waktu itu kembali, arrggghhhh itu terlalu absurd. Karena ini semua
sudah ada dalam skenarioNYA. Mungkin bukan di dunia ini aku di pertemukan
dengannya. Mungkin di surga, tempat yang penuh cinta, penuh kasih, penuh damai
dan terasa indah.
Ku tengok jam mungil yang bersandar pasrah di
dinding kamarku sudah menunjukkan pukul
19.00, belum terlarut malam sebenarnya. Tetapi sunyi terasa mencengkeramku dalam dunia asing yang
seakan senyap. Malam ini seolah ada yang menghipnotis untuk tak beranjak lenyap
dalam mimpi. Entahlah, semua masih bersanding dengan bayang bayang rindu yang
menggeletar menampar nuraniku. Serasa
menahan peluh yang bergelantungan di kelopak mata, namun akhirnya jatuh juga.
Lagi lagi aku menangis, terlalu cengeng memang ketika harus di hadapkan dengan
kerinduan ini. Rindu yang menyakitkan. Harusnya rasa rindu ini
sudah mati, bukankah perpisahan ini sudah cukup lama? Namun waktu belasan tahun
itu seolah tak kan bisa beranjak pergi. Betapa butuhnya aku sosok pemimpin,
sosok laki laki yang bisa membimbingku, mungkin itu yang membuat rasa ini
terlalu kuat.
Jarum jam berputar membawa waktu semakin
malam. Purnama di atas cakrawala bersinar menyirami bumi dengan cahaya
keemasannya. Tuhan, pertemukan aku pada sosok itu, walau hanya di episode
mimpiku. Waktu menunjukkan pukul 22.00. Ku pandangi kembali jam mungil itu.
Tidak lelahkah engkau wahai jarum jam yang berputar tanpa henti. Seandainya
kamu bisa mendengar curahanku, aku ingin memintamu untuk berputar ke belakang.
Aku ingin sekejab saja ada di hari itu. Dimana hari yang penuh kasih dan aku
masih ingin bercerita banyak tentang apa yang telah aku alami. Tahukah engkau
cerita apa yang ingin ku sampaikan. Apakah kamu akan bercerita bahwa kamu
menyesal menjadi kerinduan pada orang yang tak terlihat lagi. Jarum jam yang
selama hidup kamu harus bergerak dengan irama sama. Aarrgghh … mungkin kamu
tidak akan menyesal, karena kamu yang takkan mungkin menengok ke belakang lagi.
Karena kamu, dunia mengenal waktu dengan tiap detik yang kau ayunkan. Bukankah
waktu sangat amat berharga. Aaargghhh… waktu, kamu memang tak terlihat. Tapi
kamu bisa terbaca bahkan kamu bisa menjawab pertanyaan yang tak bisa terjawab.
Kerinduan ini menjadi semakin
menebal. Seiring malam mengantar kesunyian menjemput dini hari. Perlahan tapi
pasti berarak menepi. Alunan lagu ayah masih terdengar hening mengisi sunyi.
Kerinduan ini ku tujukan padamu ayah. Wahai sosok raga yang mengguncang mimpi
hari hari ku. Kuterbangkan bersama suara suara kesunyian malam. Agar sampai
kepadamu, kepada sosok yang menghadirkan aku ke dunia. Keresahan mengisi langit
malamku dengan sejuta tetes air mata kerinduan. Juga dengan sejumput do’a agar
aku masih bisa menatap mentari. Mengarungi hari dengan semua mimpi. Indah fajar
hari yang merekah jingga di timur cakrawala. Aku merindukan itu, meridukan
embun pagi yang menggantung laksana kristal pada pucuk pucuk daun. Merindukan
mentari pagi menyapa bumi. Ahhhh.. aku merindukan semua itu. Sebuah rindu yang
tak berujung adalah saat merindukan seseorang yang sudah tak terlihat lagi.
Meski terlihat nyata kasih sayangnya semasa hidup. Kini aku sendiri menjaga
kasih kasih sayangnya. Aku disini tak kan mengecewakan. Walau aku belum sempat
membahagiakan mu. ku yakin engkau tersenyum indah di surga sana .Hanya do’a
yang mampu menjadi obat kerinduanku. Ayahh miss u.
“Dimana
akan ku cara , aku menangis seorang diri. Hatiku selalu ingin bertemu.
Untukmu
aku bernyanyi.Untuk ayah tercinta…..aku ingin bernyanyi….Walau air mata di
pipiku…..Ayah dengarkanlah…aku ingin berjumpa…..walau hanya dalam mimpi.
Lihatlah
hari berganti, namun tiada seindah dulu. Datanglah aku ingin bertemu, Denganmu
aku bernyanyi.”
By: Harmini




0 komentar:
Posting Komentar