Kamis, 18 Desember 2014

CERPEN


Salam Rinduku Untuk Ayah

Malam yang merambat pelan dalam kesunyian. Dingin menelusup melalui sela- sela dedaunan yang merimbun bergoyang  tertiup angin. Dingin memang terasa  beku menusuk tulang. Aku masih  duduk  di sini di tepi pembaringan  kamarku. Sayup sayup terdengar  alunan lagu ayah dari crisye mengantarkan hening ke telinga. Sair demi sair seolah menghujam  dalam otak. Sebuah lagu yang bercerita akan kerinduan seorang ayah. Ya, rindu kata itu mungkin terlalalu manis untuk di dengar. Namun itu seperti halnya berputar balik untukku memaknai nya. Alunan lagu dengan nada sendu beradu hebat dalam kepenatan.

Kerinduan telah membekukan kelam malam. Namun kantuk masih enggan bersahabat. Aku terkapar dalam kegelisahan yang tersaji di sudut kamar. Malam yang gerah perlahan membawa pikiran dalam persetubuhan otak yang tak pernah klimaks. Menghidangkan keresahan atas kehidupan yang telah kutempuh lebih dari seperlima abad. Tiba-tiba pikiran ganjil bin aneh menusuk-nusuk tempurung kepala. Aku ingin berteriak keras, melepas penat yang menggumpal dalam otaku. Urat-urat menegang mengejang. Tiba-tiba muncul sebuah bayang bayang yang menari di mata. Sesosok tubuh yang terbalut bayangan  suram yang sulit  untuk ku ingat wajahnya. Hari yang di mana menjadi hari terakhir. Sebuah kecelakaan yang harus merenggut nyawa. Butiran air mata luka menghiasi setiap derap langkah kaki. Rumah yang semula kosong berubah menjadi jeritan duka. Aku yang dengan tampang  polosku seolah tak mengerti apa yang terjadi siang itu. Aku di dekatkan dengan ayah yang sudah terbujur lemas. Hanya dengan isyarat mata ayah memandangiku. Mendekap seolah berat untuk meninggalkan.Kecupan terakhir menjadi symbol pamitannya dan tertutuplah mata ayah untuk selamanya. Aku dan ibu mengantar jasad mendiang ayah di peristirahatan terakhir. Pepohonan yang bergoyang seakan merasakan duka. Burung burung yang berkicau seolah ikut mengucapkan kalimat tahlil yang akan mengiringi langkah ayah menuju alam barzah sana. Penaburan bunga mengakhiri prosesi pemakaman sore itu. Aku bersama ibu menaburkan bunga di atas kuburan yang masih harum semerbak. Air mata luka masih menghiasi pipi ibu. seolah merubah sore  itu menjadi malam dengan balutan awan hitam yang kelam. Hanya satu memori itu yang masih terekam dalam otakku. Walau seperti mengingat  bayangan semu abu abu. Entah dengan cara apa aku harus mengingatnya . Terlalu sulit ketika harus mengingat kembali wajah dalam memori siang itu. Akan tapi di situlah kebesaran Tuhan di mana aku masih di beri satu ingatan untuk mengingat moment terakhir itu.

 Entahlah apa yang ku fikirkan. Mungkin aku lelah, aku capek. Hanya itu yang kurasakan. Dan dalam hati hanya ingin ku panggil “ayaaahhhhhhh”. Memang benar, aku rindu, aku ingin bercerita, aku ingin di peluk. Bisakah  kau hadir malam ini, aku ingin berbagi. Lihatlah gadis kecilmu ini, kini sudah beranjak dewasa, tanpamu dia mejadi sosok yang mandiri, dia kuat, dia hebat ayah, gumamnya. Rindukah engkau dengannya? Pertanyaan pertanyaan yang terlalu abstrak untuk di tanyakan. Hanya bayangan bayangan semu yang tak pernah terlihat jelas wajahnya. Seperti membayangkan seseorang tanpa rupa. Karena memang aku yang dari kecil  tak pernah melihat sosoknya, hanya lewat cerita bunda aku mengenal dan hanya dapat mengenangnya.

 Dua tahun mungkin dapat dibilang usia yang terlalu dini ketika aku harus mengingat. Seandainya ada tempat untuk  menyimpan memori, mungkin aku masih bisa mengingat saat aku masih di timang timang, di manjakan, di dekap. Disitulah mungkin aku merasakan kasih sayang seorang ayah yang ku rindukan. Haruskah aku meminta waktu itu kembali, arrggghhhh itu terlalu absurd. Karena ini semua sudah ada dalam skenarioNYA. Mungkin bukan di dunia ini aku di pertemukan dengannya. Mungkin di surga, tempat yang penuh cinta, penuh kasih, penuh damai dan terasa indah.

 Ku tengok jam mungil yang bersandar pasrah di dinding kamarku sudah menunjukkan pukul  19.00, belum terlarut malam sebenarnya. Tetapi sunyi  terasa mencengkeramku dalam dunia asing yang seakan senyap. Malam ini seolah ada yang menghipnotis untuk tak beranjak lenyap dalam mimpi. Entahlah, semua masih bersanding dengan bayang bayang rindu yang menggeletar  menampar nuraniku. Serasa menahan peluh yang bergelantungan di kelopak mata, namun akhirnya jatuh juga. Lagi lagi aku menangis, terlalu cengeng memang ketika harus di hadapkan dengan kerinduan  ini. Rindu  yang menyakitkan. Harusnya rasa rindu ini sudah mati, bukankah perpisahan ini sudah cukup lama? Namun waktu belasan tahun itu seolah tak kan bisa beranjak pergi. Betapa butuhnya aku sosok pemimpin, sosok laki laki yang bisa membimbingku, mungkin itu yang membuat rasa ini terlalu kuat.

   Jarum jam berputar membawa waktu semakin malam. Purnama di atas cakrawala bersinar menyirami bumi dengan cahaya keemasannya. Tuhan, pertemukan aku pada sosok itu, walau hanya di episode mimpiku. Waktu menunjukkan pukul 22.00. Ku pandangi kembali jam mungil itu. Tidak lelahkah engkau wahai jarum jam yang berputar tanpa henti. Seandainya kamu bisa mendengar curahanku, aku ingin memintamu untuk berputar ke belakang. Aku ingin sekejab saja ada di hari itu. Dimana hari yang penuh kasih dan aku masih ingin bercerita banyak tentang apa yang telah aku alami. Tahukah engkau cerita apa yang ingin ku sampaikan. Apakah kamu akan bercerita bahwa kamu menyesal menjadi kerinduan pada orang yang tak terlihat lagi. Jarum jam yang selama hidup kamu harus bergerak dengan irama sama. Aarrgghh … mungkin kamu tidak akan menyesal, karena kamu yang takkan mungkin menengok ke belakang lagi. Karena kamu, dunia mengenal waktu dengan tiap detik yang kau ayunkan. Bukankah waktu sangat amat berharga. Aaargghhh… waktu, kamu memang tak terlihat. Tapi kamu bisa terbaca bahkan kamu bisa menjawab pertanyaan yang tak bisa terjawab.

              Kerinduan ini menjadi semakin menebal. Seiring malam mengantar kesunyian menjemput dini hari. Perlahan tapi pasti berarak menepi. Alunan lagu ayah masih terdengar hening mengisi sunyi. Kerinduan ini ku tujukan padamu ayah. Wahai sosok raga yang mengguncang mimpi hari hari ku. Kuterbangkan bersama suara suara kesunyian malam. Agar sampai kepadamu, kepada sosok yang menghadirkan aku ke dunia. Keresahan mengisi langit malamku dengan sejuta tetes air mata kerinduan. Juga dengan sejumput do’a agar aku masih bisa menatap mentari. Mengarungi hari dengan semua mimpi. Indah fajar hari yang merekah jingga di timur cakrawala. Aku merindukan itu, meridukan embun pagi yang menggantung laksana kristal pada pucuk pucuk daun. Merindukan mentari pagi menyapa bumi. Ahhhh.. aku merindukan semua itu. Sebuah rindu yang tak berujung adalah saat merindukan seseorang yang sudah tak terlihat lagi. Meski terlihat nyata kasih sayangnya semasa hidup. Kini aku sendiri menjaga kasih kasih sayangnya. Aku disini tak kan mengecewakan. Walau aku belum sempat membahagiakan mu. ku yakin engkau tersenyum indah di surga sana .Hanya do’a yang mampu menjadi obat kerinduanku. Ayahh miss u.

“Dimana akan ku cara , aku menangis seorang diri. Hatiku selalu ingin bertemu.
Untukmu aku bernyanyi.Untuk ayah tercinta…..aku ingin bernyanyi….Walau air mata di pipiku…..Ayah dengarkanlah…aku ingin berjumpa…..walau hanya dalam mimpi.

Lihatlah hari berganti, namun tiada seindah dulu. Datanglah aku ingin bertemu, Denganmu aku bernyanyi.”

By: Harmini

0 komentar: